Jumat, 21 Maret 2014

SISLOGNAS Tulang Punggung Ekonomi Nasional

(Jakarta, 18/3/2014) Sistem Logistik Nasional (Sislognas) menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Misi Sislognas dalam konsep ekonomi adalah globally connectivated dan locally integrated. Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik dan Multimoda, Sugihardjo dalam paparan pada Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI ) di Jakarta, Senin (17/3).

Dalam paparannya tersebut Sugihardjo menjelaskan, logistik dan forwader memiliki peran yang penting dalam perekonomian nasional. Karena itu, ia berpesan kepada ALFI untuk lebih meningkatkan perannya tidak hanya domestik tetapi juga internasional.

"Peran pendistribusian komoditas domestik harus dipertahankan, tetapi kita tidak bisa menutup diri dari pergaulan internasional," pesannya.

Ia menegaskan, persaingan di sektor jasa logistik akan semakin berat, terlebih dengan semakin agresifnya investor asing yang akan masuk ke Indonesia.

"Lebih - lebih ketika nanti diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN 2015. Sudah siapkan sumber daya manusia (SDM) kita?" tanya Sugihardjo.

Ia menambhakan, prinsip dalam Sislognas adalah turunnya biaya dan waktu proses dwelling time dalam proses logistik.

"Dwelling time di Indonesia masih lama antara 6 sampai 8 hari. Negara - negara tetangga sudah 3 sampai 4 hari bahkan Singapura lebih pendek dari itu," papar nya

Kondisi tersebut, dijelaskan Sugihardjo, karena banyaknya instansi terlibat di pelabuhan. Karena itu, perlu sinergi dari berbagai pihak yang terlibat di pelabuhan.

Sementara itu, Ketua Umum ALFI Iskandar Zulakarnaen mengatakan, Munas ALFI tahun ini   mengambil tema " Suksesnya Pemilu 2014 dan Suksesnya Kepemimpinan Nasional Ditentukan oleh Sistem Logistik Nasional" dan  berharap Sislognas menjadi program utama pemerintahan hasil Pemilu 2014.

Munas ALFI selain memilih pengurus baru, juga membahas revisi KM Perhubungan tahun 1998 tentang Jasa Pengurusan Transportasi.

Revisi KM tersebut harus bisa memberikan kepastian usaha ribuan usaha logistik di Indonesia. " Sikap ALFI adalah agar usaha logistik nasional terlindungi dan   menolak kebijakan yang berpotensi mengancam usaha sektor ini," jelas Iskandar.

Ia mengatakan, tantangan sektor logistik di Indonesia saat ini sangat berat. Faktor daya saing logistik yang masih terpuruk hingga biaya logistik yang tinggi membuat Indonesia tidak mudah memasuki era liberalisasi ekonomi ASEAN 2015.

" Tantangan terberat adalah para pelaku usaha asing yang masuk sektor usaha ini," tambah Iskandar.(SNO)

Sumber : http://m.dephub.go.id/read/berita/sislognas-tulang-punggung-perekonomian-60791

Peran Logistik Militer dalam Pertempuran

Penulis :  Mayor  Czi Lin Nofrianto

Logistik militer adalah proses pengadaan, pemeliharan dan transportasi dari materiil, fasilitas dan jasa. Logistik militer merupakan ilmu tentang perencanaan dan penganggaran gerakan dan pemeliharaan suatu kekuatan. Strategi terkait dengan penentuan dan cara pencapaian logistik sesuai penciptaan dan penyelenggaraan dukungan secara terus menerus kepada satuan tempur dan satuan taktis demi tercapainya tujuan strategi. Teknis strategi dan taktik memberikan pola penyelenggaraan operasi militer, sedangkan logistik menyediakan sarananya.

Dalam ilmu militer, menjaga agar jalur suplai sambil mengganggu jalur logistik musuh amatlah krusial. Napoleon bahkan mengatakan logistik adalah faktor terpenting dalam strategi militer, karena sebuah angkatan bersenjata tanpa sumber daya dan transportasi itu tidak berdaya. Kekalahan Inggris di Perang Kemerdekaan  Amerika  dan  kekalahan  Poros  ( Nazi  Jerman,  Italia  dan Kekaisaran Jepang)  di medan Afrika pada Perang Dunia II  semua disebabkan oleh kegagalan Logistik. Para pemimpin bersejarah seperti  Hannibal Barca, Alexander Agung  dan  Duke Wellington dianggap sebagai jenius dalam logistik.

ILS (Integrated Logistics Support ) / dukungan logistik terpadu adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh tentara/militer untuk memastikan sistem dukungan  yang kuat dengan memberikan layanan perbekalan (logistik). Konsep pemikirannya adalah biaya terendah dan sesuai dengan kebutuhan, handal, persediaan yang mencukupi, pemeliharaan dan lain-lain sebagai persyaratan yang ditetapkan untuk itu.

Dalam logistik militer, perwira logistik mengatur bagaimana dan kapan memindahkan sumber daya ke tempat dimana mereka dibutuhkan. Manajemen rantai suplai di logistik militer biasanya bersinggungan dengan variabel-variabel tertentu untuk memprediksi biaya, penurunan kualitas, konsumsi dan permintaan masa depan. Pengelompokan kategori AD AS (pengurutan dan kategorisasi) yaitu klasifikasi suplai dikembangkan sedemikian rupa sehingga suplai dengan kategori konsumsi yang mirip dikelompokkan menjadi grup-grup tersendiri untuk kegunaan perencanaan lebih lanjut. Contohnya, konsumsi pada masa damai untuk amunisi dan bahan bakar akan lebih sedikit dibandingkan pada masa peperangan, dimana suplai lainnya seperti makanan dan baju memiliki rasio konsumsi yang konstan tanpa menghiraukan perang maupun damai. Pasukan akan selalu membutuhkan seragam dan makanan, lebih banyak pasukan berarti kebutuhan makanan dan seragam akan lebih banyak.

Asal usul logistik militer

Kata "logistik" berasal dari bahasa Yunani logistikos, kata sifat yang berarti "terampil dalam menghitung". Penggunaan kata administrasi pertama kali di Romawi dan Bizantium ketika ada pejabat administrasi militer dengan gelar Logista. Pada saat itu, tampaknya tersirat kata suatu keahlian yang terlibat dalam perhitungan matematis.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pertama dalam kaitannya dengan administrasi militer yang terorganisasi sains oleh penulis Swiss, Antoine-Henri Jomini, pada tahun 1838, menyusun sebuah teori perang di trinitas strategi, taktik medan tempur, dan logistik. Perancis  masih menggunakan  kata-kata  logistique  dan  loger dengan makna "untuk seperempat".

Aktivitas militer yang dikenal sebagai logistik mungkin sama tuanya dengan perang itu sendiri. Dalam sejarah awal manusia ketika perang pertama (berjuang), setiap orang harus mencari makanan sendiri. Setiap prajurit bertanggung jawab untuk cari makan untuk makanan dan kayu bakar sendiri. Kemudian, ketika bergabung sebagai pejuang memerangi kelompok-kelompok dan kelompok menjadi lebih besar, apakah ada alasan untuk menunjuk orang-orang tertentu yang berspesialisasi dalam penyediaan makanan dan senjata kepada para pejuang. Orang-orang yang memberikan dukungan kepada para pejuang merupakan organisasi logistik pertama.

Perang saudara Amerika melihat pengenalan transportasi kereta api untuk personil, peralatan, dan medan berat Selama Perang Tujuh Minggu, kereta api cepat memungkinkan mobilisasi Angkatan Darat Prusia, tetapi masalah persediaan yang bergerak dari akhir jalur rel untuk unit di depan, menghasilkan hampir 18.000 ton terjebak di kereta api, tidak dapat diturunkan ke landasan transportasi menggunakan kereta api Prusia selama Perang Perancis-Prusia sering dikutip sebagai contoh utama logistik modernisasi, tapi keuntungan dari manuver sering diperoleh dengan meninggalkan jalur pasokan yang menjadi putus, sesak dengan lalu lintas daerah belakang.

Selama Perang Dunia I, perang kapal selam tak terbatas berdampak pada kemampuan sekutu Britania raya untuk tetap membuka jalur pelayaran, dalam ukuran besar Tentara Jerman ternyata terlalu banyak di kereta api untuk mendukung kecuali saat bergerak dalam perang parit.

Prinsip-prinsip logistik militer secara umum, pertama responsif yaitu menyediakan dukungan yang tepat pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Kedua, kesederhanaan yaitu menghindari kerumitan dalam persiapan, perencanaan dan pelaksanaan operasi logistik. Ketiga, fleksibilitas yaitu mengadaptasi dukungan logistik terhadap setiap perubahan kondisi, baik perubahan lingkungan, perubahan misi, maupun perubahan konsep operasi. Keempat, ekonomis yaitu penggunaan kemampuan dukungan logistik secara efektif dan pemanfaatan yang ekonomis. Kelima, daya memperoleh dukungan logistik pokok minimum untuk memulai operasi pertempuran. Keenam, daya dukung dalam penyediaan logistik untuk jangka waktu operasi dan yang terakhir ketahanan logistik terutama infrastruktur logistik.

Dalam sistem logistik militer dikenal logistik pertahanan dan logistik wilayah. Logistik Pertahanan menekankan pada logistik sebagai jembatan antara garis depan dan garis belakang, dan proses logistik merupakan unsur ekonomi dalam operasi-operasi militer. Logistik pertahanan adalah segala upaya dalam menentukan kebijakan, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian melalui tahap pembinaan dan penggunaan personel, materiel, fasilitas, dan jasa sesuai tuntutan operasional, baik dalam jumlah, mutu, waktu, jenis, tempat, dan kondisi serta dapat mempertahankan kesiapannya selama digunakan.

Sedangkan logistik wilayah menekankan pada penyiapan dukungan logistik yang ditetapkan pada lokasi dan jarak dari medan-medan pertahanan dan daerah-daerah pangkal pertahanan dan perlawanan. Pembangunan pusat-pusat dukungan logistik sesuai dengan lokasi pusat pengembangan ekonomi dan industri (sesuai tata ruang wilayah negara) yang memadukan kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan.

Sumber :  http://www.kostrad.mil.id/index.php/artikel/1342-peran-logistik-militer-dalam-pertempuran

Frost & Sullivan: Industri Logistik Indonesia Capai Rp 1,8 Triliun di 2014

Frost & Sullivan memprediksi industri logistik nasional bisa tumbuh 14,7 persen, dari Rp 1,6 triliun di tahun 2013 menjadi Rp 1,8 triliun pada tahun ini. Yang menjadi faktor pendorong adalah pertumbuhan di sektor jasa dan konsumsi rumah tangga.
“Konsumsi domestik selama ini telah mendorong pertumbuhan (ekonomi) Indonesia, yang berkontribusi lebih dari 50 persen dari PDB negara,” terang Gopal R, Global Vice President Transportation & Logistics Practice Frost & Sullivan, di Jakarta, Selasa (18/3/2014).
gopal r frost&sullivan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang diprediksi sedikit melambat di tahun ini, tapi tetap saja angkanya di atas lima persen. Gopal berujar, pertumbuhan ekonomi yang positif akan mendorong peningkatan konsumsi, sehingga akhirnya berimbas pada tumbuhnya volume perdagangan. Hal itu lalu berdampak ke industri logistik, yang berperan menyampaikan barang dari tangan produsen ke konsumen. Disebutkan pula, meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah mendorong pertumbuhan permintaan barang.
Berdasarkan kondisi yang demikian, Frost & Sullivan memprediksi industri logistik nasional bakal tumbuh menjadi Rp 1,8 triliun. Bila dirinci, Gopal menuturkan, pengiriman logistik lewat laut bisa mencapai 1,04 miliar ton tahun ini. Ada kenaikan 4,3 persen dari tahun 2013. Sedangkan pengiriman kargo melalui kereta api ditaksir tumbuh 8,5 persen menjadi 25,5 juta ton. Untuk pengiriman logistik lewat udara meningkat lebih tinggi sebesar 15,3 persen atau mencapai 1,34 juta ton pada tahun ini.
zaldi masita Asosiasi Logistik
Dalam kesempatan yang sama, Zaldy Ilham Masita, Presiden Asosiasi Logistik Indonesia, menuturkan, pertumbuhan perusahaan-perusahaan di industri logistik memang cukup besar dari tahun ke tahun. “Saya rasa kalau pertumbuhan 15 persen setiap tahun itu sudah bagus. Makanya banyak perusahaan asing mau masuk ke Indonesia karena melihat pertumbuhannya yang sangat bagus,” ucap dia. (EVA)

Sumber :  http://swa.co.id/business-research/frostsullivan-industri-logistik-indonesia-capai-rp-18-triliun-di-2014

Jumat, 24 Januari 2014

Pentingnya Pasar Domestik

Pentingnya Pasar Domestik
 
SAMPAI di manakah kita kuat membendung badai krisis ekonomi global yang imbasnya benar-benar akan kita rasakan pada paruh pertama tahun ini? Jawabannya ada di dalam diri sendiri, yaitu bergantung pada seberapa besar kita mampu memberdayakan potensi yang kita miliki.

Salah satu potensi besar yang sering luput dari arus utama kebijakan ekonomi kita adalah pengembangan pasar domestik. Ia baru dilirik ketika pasar ekspor sedang lesu. Dalam situasi normal, teropong ekonomi kerap diarahkan ke pasar luar negeri.

Padahal, lebih dari 70% pendapatan negara berasal dari pasar dalam negeri. Pasar ekspor hanya menyumbang kurang dari 30%. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan pada 2009 pasar domestik diperkirakan menyumbang pendapatan negara lebih dari 80%, sedangkan pasar ekspor hanya menyumbang sekitar 18%.

Data tersebut menggambarkan pasar domestik memiliki potensi yang luar biasa untuk digerakkan dan merupakan jawaban yang ampuh untuk menghadapi imbas krisis finansial global yang akan lebih dirasakan pedihnya oleh negara-negara yang bergantung pada ekspor.

Kepedihan itu terutama mendera sebagian besar negara yang kekuatan pasarnya sedang tumbuh (emerging market) yang menguasai 60% pangsa pasar ekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara maju. Akibat krisis, permintaan dari negara-negara tujuan ekspor tersebut kini mengalami penurunan sehingga berdampak terhadap permintaan barang-barang dari negara-negara yang sedang tumbuh (emerging countries).

Karena itu, fokus mengembangkan potensi pasar domestik mestinya menjadi prioritas utama kebijakan ekonomi pemerintah tahun ini. Kendati menambah beban pada semua komponen ekonomi, fokus pengembangan potensi pasar domestik akan mampu menyelamatkan masyarakat dari imbas krisis.

Tekad yang sudah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada malam menjelang pergantian tahun sudah tepat, namun harus lebih dikonkretkan. Tekad itu adalah memelihara pertumbuhan ekonomi di level 4,5%, menjaga daya beli masyarakat, dan memberantas barang impor ilegal.

Langkah konkret menjaga daya beli, misalnya, bisa dilakukan dengan melibatkan secara penuh produsen dalam negeri pada semua proyek negara. Bahan-bahan yang komponennya sudah bisa diproduksi di dalam negeri, seperti semen, besi lokal, dan aspal, harus dimaksimalkan dalam pengerjaan proyek negara.

Untuk memperluas pasar domestik, negara harus memberi insentif lebih berupa pembebasan pajak pertambahan nilai kepada dunia usaha yang sangat dominan memakai komponen bahan baku dalam negeri dan banyak menyerap tenaga kerja, seperti industri tekstil dan garmen. Kebijakan itu perlu dilakukan agar masyarakat tetap bisa menjangkau harga produk tersebut dan pengusaha juga diuntungkan karena pasarnya terjaga. Langkah itu harus pula dibarengi dengan perang habis-habisan terhadap penyelundupan. Jangan biarkan produk buatan China masuk secara ilegal dan menghancurkan industri dalam negeri.

Jika semua langkah itu serentak dilakukan, beban ekonomi akan terasa lebih ringan. Sebab, kita tidak bisa berharap banyak dari orang lain untuk menyelamatkan negeri ini. Mereka juga sedang dilanda kepanikan dan mencari pegangan yang kukuh agar tidak terhempas.

Kita hanya butuh membangkitkan kekuatan pada diri anak bangsa untuk menyelamatkan negeri kita sendiri. Dan, kekuatan itu ada di dalam negeri kita sendiri.

http://witart.wordpress.com/2009/01/05/pasar-domestik-apa-khabar/

Lindungi Lahan Pertanian

Harus Lindungi Lahan Pertaniaan


Indonesia merupakan negara kepulauaan yang memiliki tanah yang sangat subur, Pulau Jawa yang dahulu kala direncanakan sebagai basis pertahanan pangan, dengan dinimika dan percepatan pertumbuhan ekonomi dan penduduk lambat laun berubah menjadi sentra industri dan pemukiman. Hal ini tidaklah salah, mengingat 57 % (Sensus BPS 2010) penduduk Indonesia hidup di Pulau Jawa. namun Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya bermata pencahariaan sebagai petani maka, maka kita bersama harus saling bekerja sama untuk mengawal  Undang-undang No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian. 

Mengapa Pertaniaan penting bagi Indonesia ? Indonesia sebagai negara yang luas 1,904,569 km2  membentang dari Sabang sampai Merauke, ternyata harus mengimpor produk pertaniaan, dan tentu saja bila impor maka akan ada rupiah yang terkonversi menjadi mata uang lain untuk proses impor tersebut, secara otomatis akan berpengaruh terhadap devisa. semua hal ini juga tidak salah karena proses ekspor dan impor itu adalah bagian dari roda perekonomiaan dan terjadi di semua negara. namun alangkah lebih baik bila ekspor lebih besar dari pada impor. maka salah satu usaha kita untuk menjaga keseimbangan ekspor impor itu salah satunya, perlahan kita berdayakan produk asli Indonesia terutama produk pertaniaan. sebagai contoh Impor Beras, Impor terbesar berasal dari India sebanyak 11.992 ton beras dengan nilai US$ 4,88 juta, itu di bulan Agustus 2013, Thailand 11.530 ton atau senilai US$ 7,819 juta, Vietnam 6.925 ton beras dengan nilai US$ 4,196 juta untuk bulan Agustus 2013, Pakistan 4.015 ton atau senilai US$ 1,521 juta di bulan Agustus 2013, Myanmar 1.000 ton beras atau senilai US$ 369,83 ribu di bulan Agustus 2013. Indonesia sebagi salah satu negeri yang mempunyai basis pertaniaan yang luas, kedepan impor dapat diturunkan.

Melindungi lahan pertaniaan, lahan pertaniaan terutama di Pulau Jawa sedikit demi sedikit mulai terkonversi menjadi lahan industri dan juga pemukiman penduduk, sekali lagi hal ini tidak salah karena 57 % penduduk tinggal di Pulau Jawa, dan di Pulau ini juga perputraan rupiah bergulir. maka Pula Jawa seolah menjadi sentra kehidupan masyarakat indonesia padahal luas pulau ini tidak sebesar Pulau Sumatera dan Kalimantan, dan akhirnya Pulan Jawa terus terbebani untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (terutama untuk lahan tempat tinggal). Sebagai sentra ekonomi maka makin banyak orang yang tinggal di Pulau Jawa maka makin banyak membutuhkan lahan untuk tinggal di Pulau Jawa. hal ini maka secara tidak langsung akan berpengarug terhadapa kawasan-kawasan yang masih kosong (lahan produktif pertaniaan) untuk dijadikan hunian penduduk. Undang-undang No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian bukan untuk membatasi pembangunan tetapi untuk menjaga lahan pertaniaan agar ketersediaan pangan masyarakat dapat terpenuhi. lahan pertaniaan selain untuk mencukupi pangan, tetapi untuk melindungi mata pencahariaan penduduk terutama ( petani, pedagang pupuk, penyedia alat pertaniaan, penyedia jasa angkutan dll ), dan juga untuk tetap menjaga ekosistem dan lingkungan.

Harapan, Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan di tahun 2013 setidaknya ada lebih dari 100.000 hektar lahan pertanian terkonversi menjadi lahan industri dan perumahan (http://finance.detik.com/read/2014/01/07/123248/2460268/4/industri-dan-perumahan-caplok-ribuan-hektar-lahan-pertanian-di-2013). Secara garis besar Pembangunan baik Industri ataupun Perumahaan tidaklah bisa dihindari, karena dengan kemajuaan ekonomi, teknologi dan laju pertumbuhan penduduk membutuhkan semua itu. namun kita wajib untuk bersama-sama melindungi juga lahan-lahan potensial terutama lahan pertaniaan agar tetap terjaga. Kita harus tetap menanam padi walaupun kita harus juga menanam beton dan paku bumi. oleh karena itu peran Pemerintah, Masyarakat dan Sektor Privat, untuk bersama-sama bersinergi untuk tetap menjaga lahan-lahan produktif tersebut. Salah satu hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan adalah menerapkan sistem zona di dalam Rancangan Tata Ruang dan Wilayah, kita harus membuatkan Peta yang memisahkan dimana lahan untuk pemukiman, pertaniaan, industri, dll (dengan didukung oleh infrastruktur pendukung untuk tiap-tiap zona). misalnya apabila lahan untuk industri di suatu wilayah telah penuh maka, perusahaan/orang bisa mencari zona industri di wilayah yang zona industrinya masih tersedia tentunya telah tersedia juga infrastruktur pendukungnya.

Analogi, Penduduk tanpa lahan pertaniaan ? mau makan apa , Industri tanpa lahan pertaniaan ? mau bikin apa (kecuali tambang, heheheh), Petani tanpa lahan pertaniaan ? mau kerja apa, Penjual Pupuk tanpa lahan Pertaniaan ? mau jual apa.

Konsep Keseimbangan harus selalu kita terapkan tanpa ada satu pihakpun yang dirugikan demi kemajuaan Indonesia

Tulisan ini hanya sekedar pendapat, dan mohon maaf apabila ada kesalah kalimat. semoga bermanfaat

Salam Hormat,

AW